Budidaya Ikan Lele di Terpal

Budidaya Ikan Lele di Terpal

Budidaya ikan lele di terpal, lele atau ikan keli, adalah suatu keluarga ikan yang hidup di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang, serta memiliki “kumis” yang panjang, yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya. Ikan ini banyak dikomsumsi karena rasanya yang enak jika di goreng atau dibakar.

Ikan-ikan keluarga Clariidae dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak bersisik, dengan sirip punggung dan sirip anus yang juga panjang, yang kadang-kadang menyatu dengan sirip ekor. Lele memiliki tubuh yang lonjong seperti torpedo atau sangat panjang seperti sidat pendek.

Kepalanya keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong, dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk bergerak di air yang gelap. Beberapa spesies lele tidak bisa melihat. Mesin pelet.

Lele juga memiliki alat pernapasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya yang memungkinkan sebagin lele bertahan di darat. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam, pada sirip-sirip dadanya. Ada yang mengatakan,bahwa patil ini tidak hanya tajam tetapi juga beracun dan mengakibatkan panas tinggi jika orang tak sengaja terkena patil tersebut.

Budidaya Ikan Lele di Terpal

1. Buat Media Kolam Menggunakan Terpal

Sebelum membeli bibit lele, sebaiknya buat dulu kolam yang terbuat dari terpal. Caranya, bentangkan terpal hingga berbentuk menyerupai kolam. Kemudian berdirikan tegak dengan cara disanggah besi, atau bisa juga dengan susunan batako untuk bagian tepinya.

2. Sesuaikan Ukuran Kolam Terpal dengan Lahan

Berbeda dengan kolam lele yang biasa dibuat, kolam terpal untuk budidaya lele bisa dibuat di rumah dan bisa disesuaikan dengan lahan yang ada. Buat saja sesuai ukuran lahan yang tersedia, pastikan agar tak terlalu besar atau terlalu kecil. Serta, jangan lupa untuk membuat saluran kuras air.

3. Isi Terpal Dengan Air

Setelah kolam jadi, isi dengan air setinggi 20-30 cm. Lalu, diamkan air di dalamnya sekitar 7 sampai 10 harian. Ini dilakukan untuk pembentukan lumut dan fitoplankton. Setelah itu, tambahkan lagi air dengan ketinggian 80-90 cm.

4. Taburkan Irisan Daun Singkong atau Daun Pepaya

Pasca dibiarkan selama 7-10 hari, bau kolam pastinya sedikit amis dan menyengat. Nah, untuk menghilangkan baunya, maka taburkan irisan daun singkong dan pepaya.

5. Pilih Bibit Lele Unggul

Tak cuma fokus di pembuatan kolam, keberhasilan budidaya lele juga tergantung kualitas bibit yang dipilih. Untuk hasil maksimal, pilihkan bibit berkualitas unggul. Pilih bibit lele unggul yang sehat dan lebih besar. Bibit lele yang unggul biasanya gerakannya lebih agresif dan gesit saat diberi makan dan warna sedikit lebih terang.

6. Pisahkan Ukuran Lele

Pada saat akan menebar bibit lele, lebih dulu pisahkan ukuran yang besar dengan yang kecil. Untuk menghindari ikan lele memakan sesama, mengingat lele adalah hewan kanibal. Tak hanya itu, hindari menebar bibit lele secara bersamaan, sebab akan membuat ikan setres dan mati. Tebar sedikit demi sedikit.

7. Lakukan Pemeliharaan Lele Sesuai Prosedur

Setelah bibit lele disebar, bukan berarti selesai dengan didiamkan begitu saja. Pembudidaya lele terpal harus menyortir ikan lele yang sudah berumur kurang lebih 20 hari. Pisahkan sesuai ukurannya di kolam yang berbeda. Ketahui juga, warna kolam terpal yang bagus adalah hijau. Nah, jika warnanya sudah keruh dan mulai gelap segera lakukan pengurasan.

8. Panen Lele

Kapan ikan lele hasil budidaya sudah bisa dipanen? Yakni jika usia lele sudah berusia kurang lebih 90 hari dari masa tebar bibit. Untuk mengambil hasil panen, usahakan memakai sarung tangan. Atau untuk lebih amannya, pakai jaring maupun serokan besar.